Selasa, 31 Januari 2012

Biasakah Produksi Tambak Udang Meningkat?

Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat luar biasa dalam ekspor tambak udang ke Jepang, Eropa dan Amerika. Namun sayangnya, beberapa petambak merasa takut karena resiko kegagalan selalu membayangi. Di sisilain, sebagian petambak, mulai enjoy menikmati hasil tambak yang berlimpah.

Arief Haryono, salah satu petambak yang masih bertahan di Desa Tegal Cangkring, Jimbrana, Kabupaten Negara, Bali. Ia terkenal petambak yang ulet pantang menyerah. Bahkan ia rela harus tidur di areal tambaknya untuk memanen tambak udang. yang baru berumur 101 hari, rata-rata size 45 tiap kilogramnya.

Memang secara keseluruhan usaha budidaya tambak terutama di kawasan pulau dewata, boleh dibilang mulai bergairah setelah sekian lama mati suri akibat terserang penyakit akibat penggunaan anti biotik yang berlebihan. Tak hanya di Bali, kondisi ini juga terjadi di seluruh wilayah Indonesia terutama di pulau Jawa.
 
Padahal, produksi udang sempat menjadi primadona pada tahun 1980-an khususnya dari spesies udang windu (Penaeus monodon ) yang terus menurun hingga tahun 1990-an. Jenis udang windu mulai jarang dibudidaya oleh petambak sekarang ini. Mereka beranggapan sangat beresiko mengalami kematian pada usia yang masih muda, terserang penyakit white spot, bintik putih dan virus lainnya.

Kemudian petambak lebih suka membudidaya udang jenis vannamei (Penaeus vannamei) atau lebih dikenal dengan udang putih karena dianggap lebih tahan penyakit, sesuai program Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai bagian revitalisasi sektor perikanan. Namun kenyataannya di lapangan, vannamei pun tak luput dari masalah sama yakni mulai dihinggapi penyakit.

Penyakit yang selalu menghinggapi udang itu menurut Dr. Sukenda, ahli mikrobiologi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FKIP IPB) disebabkan penurunan kualitas air dan kerusakan sedimen. Penurunan kualitas air dan kerusakan sedimen itu terjadi akibat tingginya kandungan bahan nitrogen anorganik, senyawa organik karbon, dan sulfida.

Pemakaian antibiotik yang berlebihan inilah, penyebab bakteri pathogen menjadi kebal. Bukannya memberantas patogen malah meningkatkan resistensi dari patogen hingga solusi pengobatan apapun menjadi tidak efektif. Penumpukan senyawa kimia itu berasal dari sisa pakan, kotoran udang, serta pemupukan jangka panjang. Kondisi itu mempengaruhi kandungan senyawa amoniak, nitrit, nitrat, hidrogen sulfida, dan senyawa karbon yang bersifat toksik pada sistem tambak udang. Petambak pun akhirnya perlahan mulai meninggalkan budidya udang ini, karena kurang menguntungkan. Bahkan tidak sedikit yang mengalami kebangkrutan. Ini akibat petani tambak yang terlalu mengejar hasil berlimpah tetapi malah sebaliknya.

Bioteknologi Diperlukan
Karena penumpukan bahan berbahaya, dibutuhkan bioteknologi untuk mengubah tumpukan bahan organik tersebut. ‘’Nah, di sinilah probiotik berperan.,” jelas praktisi pertambakan yang tergabung dalam Asosiali Produsen Organik Indonesia (APOI). Ir. Tri Haryadi. Menurut Tri, penggunaan probiotik di tambak sangat bergantung pada tujuannya. Jika ingin memperbaiki dasar tambak, dipilih probiotik berisi bakteri yang mampu mereduksi H2S, amoniak, dan nitrifikasi bakteri, terkait dengan fungsinya sebagai pengurai. Sedangkan petambak yang ingin menekan pertumbuhan bakteri phatogen misalnya, menggunakan probiotik yang bersifat biokontrol. Sekarang ini kata Tri, banyak petambak mulai mengembangkan sistem budidaya polikultur organik yakni suatu sistem budidaya yang mengandalkan bahan alami dalam siklus budidayanya. Jadi dalam satu lahan tambak ada tiga komoditi yakni rumput laut (gracilaria), udang dan bandeng. Cara ini membina hubungan yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) sehingga tidak lagi diperlukan faktor luar seperti pemberian pakan pabrikan maupun pestisida yang dapat membahayakan lingkungan. Rumput laut penyuplai oksigen untuk perairan sehingga jumlah oksigen terlarut dapat terjaga dan terjamin. Selain sebagai tempat sembunyi bagi udang dan bandeng serta tempat berkumpulnya plankton, rumput laut ini memainkan peran sebagai biofilter pada perairan tambak.

Di dalam budidaya perikanan organik, penambahan obat-obatan, pestisida kimia, pakan pabrikan harus diminimalkan, tujuannya tidak lain agar produk yang dihasilkan bebas dari residu bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Penggunaan teknik alami dan ramah lingkungan diprioritaskan, mulai dari pemberian pakan, penanganan dan pengamanan lokasi budidaya sampai dengan pencegahan dan pengendalian hama dan penyakit.’’Dan peran probiotik dapat mengurangi pemakaian bahan kimia dan antibiotik,’’katanya. Budidaya perikanan organik sudah banyak dilakukan petambak di Indonesia. Di kawasan Sumatera tepatnya di Desa Selotong, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, sudah menerapkan sistem budidaya ini dan hasilnya sangat menggembirakan.

Begitu juga di Desa Rengasdengklok Utara, Kec. Rengasdengklok, Kab. Karawang, Jabar, disponsori petambak H. Endi Muchtarudin, yang berhasil memanen udang windu sebanyak 22 ton dari 11 petak tambak miliknya. Keberhasilan lulusan Sekolah Tinggi Perikanan, Jakarta ini, tak lepas dari bioteknologi yang diterapkannya, yakni pengelolaan air sistem tertutup (closed system) dan penggunaan probiotik tambak dengan sistem polikultur organik.(A)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar